Karawang, BSKT 86 NEWS--Sejumlah 332 orang siswi SMPN I Pakisjaya mengikuti kegiatan Program Stanting dengan antusias yang di hususkan untuk usia 12 sampai 16 tahun atau usia remaja.
Programer gizi Puskesmas Pakisjaya Carles Sianivar AMG senin ( 06/02/23) mengatakan, kegiatan Stanting seperti itu dilakukan setiap 3 bulan sekali di setiap tingkat SLTP dan SLTA seperti di SMPN I.Pskisjaya, tetapi untuk pelaporannya harus setiap 1 bulan sekali.
Dan yang tujuannya adalah mempersiapkan untuk tidak terjadi adanya kekurangan sel- sel darah bagi usia remaja pada saat datang waktunya mentruasi dan untuk mencegah terjadinya Anemia berat bagi remaja putri itu yang akan berpengaruh terhadap kondisi remaja tersebut hususnya pada saat remaja itu setelah menikah dan juga akan menjadi ibu yang bisa melahirkan dengan selamat dan banyinya kelak tidak menjadi stanting, paparnya.
Pada kegiatan Stanting di tingkat SLTP atau SLTA Itu adalah pertama memberikan penyuluhan kepada sejumlah siswi yang hadir saat itu tentang kerugian Stanting, kedua Skrining Anemia dan pemberian tablet penambah darah.
Adaapun kerugian akibat pengaruh Stanting adalah akan memiliki Cara berpikir yang lamban, di saat masa mencari kerja itu akan susah karena tidak memenuhi kreteria ukuran tinggi badan dalam persyaratan kerja. dan akan rentang dengan penyakit,Terangnya.
Perlu juga di garis bawahi tegas Carles, bahwa faktor Gen itu tidak 100 persen mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya seorang anak, baik berat badan atau tinggi badannya anak, bisa di lihat perkembangannya setelah anak berusia 2 tahun sampai 5 tahun, tetapi stanting bisa terjadi karena adanya pola konsumsi sehari- harinya yang tidak seimbang, ungkapnya.
Dan Jika ada yang berpendapat Adanya kasus anak yang Terindikasi stanting bagi puskesmas itu tidak bisa tahu adanya salah satu warga masyarakat termasuk Kasus Stanting, maka itu SALAH, buktinya data yang di infut ke Dinas kesehatan kabupaten itu kan dari bagian progremer gizi Puskesmas kecamatan, jelasnya, pungkasnya.
Samsuri Kordinator PPKB kecamatan Pakisjaya ikut berkomentar bahwa tidak setiap anak badannya pendek itu Stanting dan tidak setiap Stanting itu anak yang ukuran badannya pendek.
Dan ada anak yang kepalanya besar perutnya besar dan ukuran tumbuhnya pendek itu bukan stanting tapi mungkin saja bisa di duga kasus gizi buruk, tegasnya.
Sam juga menambahkan yang bisa menentukan anak termasuk kasus Stanting, itu bukan Puskesmas atau PPKB Kecamatan tetapi Bagian gizi Dinas Kesehatan Kabupaten tentunya, ucapnya.
(Satibi maulana)
